Promo di Radio, Berdagang Dengan “Penguasa Lagu Enak”

radio-gratis

Masa “kekuasaan” radio? Pertanyaan sarkas itu muncul tatkala radio menjadi salah satu ruang promo untuk musisi baru [atau lama], tapi radio begitu “berkuasa” hanya memilih lagu enak [saja]. Yang bagaimana sih enaknya radio itu?

DALAM beberapa perbincangan [serius] dengan label, manajemen artis atau indipenden artis yang sedang merintis kariernya, menembus radio menjadi perjuangan yang dianggap melelahkan. Mengapa? Karena selalu terkena dogma “hanya memutar lagu enak”. Dan enak itu selera sejatinya. Materi bagus tapi dianggap tidak enak, akan jadi nggak enak. Kasak-kusuk di belakangnya, ternyata ada hitungan nominal yang cukup cihuy.

Sekian tahun yang lalu, kita masih bisa membedakan: kalau untuk lagu rock, harus cari radio A, musik jazz, putar radio B. Dangdut, giliran putar gelombang beda lagi. Masing-masing radio itu menciptakan hits-nya masing-masing. Kalau kemudian hits yang mereka geber diikuti radio lain, itu menjadi “perayaan” yang amat menyenangkan. Dulu dalam bahasa mereka: mereka –radio-radio itu—menciptakan hits, bukan menjadi kacung hits.

Atas nama rating seperti layaknya infotainment, radio juga mengalami pergeseran. Mereka menyasar ruang yang segmented dan meraup pendengar baru, dengan program yang disesuaikan tingkat usia pendengarnya. Kemudian untuk urusan lagu, radio-radio itu kini memutar lagu yang disukai saja. Tentu saja mereka memasang kuping lebar-lebar untuk menyimak, hits apa yang sedang ngetop dan kerap diputar  di radio sebelah. Kompetisi yang ketat, dengan tuntutan “lain-lain” dari manajemen radio, membuat mereka juga akhirnya juga harus berhitung, dengan artis baru korban –untuk tidak mengatakan tumbal.

Bukan berita baru kalau label atau artis yang punya album atau single gres, akan mendekati MD dengan berbagai cara. Harapannya apalagi? Biar lagunya diputar, syukur kalau banyak request dan masuk chart. Semudah itu? Tentu saja tidak. Mana ada “makan siang gratis” sekarang. Kalau dulu MD masih bisa bermain-main dengan “idealisme-nya, sekarang sebagai kelas pekerja, mereka tunduk kepada pemilik kapital. Jangan kaget dengan pertanyaan: “artis lu punya duit buat promo nggak?” Kalau nggak? Hmm, maaf slot penuh.

Apakah demikian adanya di radio? Musik sudah tergadai sebagai dagangan? Ataukah trend dan pekembangan radio harus terjadi seperti itu? Radio kini bukan menciptakan hits tapi menjadi kacung hits? Meski mungkin ada hubungannya dengan iklan, dan nge-grab kuantitas pendengar [biasanya menurut AC Nielsen –­red], tapi kalau harus menyisihkan “lagu gak enak” demi “lagu enak” saja, kok seperti ada penindasan yang harus dilawan.

Ketika kekuatan kapital [baca: uang] selalu muncul  terlebih dahulu, maka industri musik Indonesia dan radionya, hanya melahirkan pedagang yang hanya berhtung untung rugi semata.

ABOUT THE AUTHOR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SoundUp.Co adalah wadah ideal para insan idealis yang gila musik dan lifestye urban. Ditulis dengan konsep indepth reporting, informasi yang diwartakan menjadi gizi yang lebih 'menyehatkan'
Redaksi:
editor@soundupmagz.com

Kerjasama & Iklan: promotion@soundupmagz.com

Newsletter